logo

Written by Super User on . Hits: 185

HAKIM SEBAGAI JANTUNG DI PENGADILAN

Oleh:

Muhammad Ismail, S.H.I, Musthofa, S.H.I., M.H

dan Ahmad Taujan Dzul Farhan, S.H.[1]

 A. PENDAHULUAN

Ada satu organ dalam tubuh manusia yang sangat vital. Memiliki fungsi memompa darah dalam tubuh. Organ tersebut adalah jantung. Merupakan organ penting yang dimiliki oleh manusia. Tiap detik, detak jantung berdebar dalam tubuh. Menandakan adanya kehidupan. Jangan sekali-kali menganggap remeh keberadaannya dalam tubuh. Jika jantung dan pembuluhnya bermasalah, dapat menyebabkan berbagai penyakit jantung. Menimbulkan banyak gejala. Lebih parahnya lagi, jika organ jantung mengalami disfungsi, siap-siap menghadapi kematian. Begitu sangat pentingnya jantung, sehingga jantung memiliki anatomi yang kompleks. Membentuk mekanisme kerja organ ini dalam tubuh mahluk hidup. Di dunia peradilan pun memiliki organ yang sangat penting. Seperti halnya jantung di tubuh manusia. Memiliki peran yang sangat vital. Tidak dapat digantikan oleh organ yang lain. Keberadaannya menentukan keberadaan yang lain. Organ tersebut adalah hakim.

Keberadaan hakim di pengadilan tidak bisa dilepaskan dari sejarah yang melatarbelakanginya. Kekuasaan yang terpusat dalam tubuh eksekutif, harus dipangkas dan dibagi. Kehadiran hakim sebagai konskuensi logis adanya share power (pembagian kekuasaan) dalam suatu negara. Sebagaimana teori trias politica[2] yang dicetuskan oleh ahli filsafat politik, Montesquieu.[3] Dalam teorinya, dia membagi tiga kekuasaan, salah satunya kekuasaan yudikatif. Kekuasaan yudikatif atau disebut kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.

Hakim masuk dalam kekuasaan negara, kekuasaan yudikatif. Memiliki kewajiban untuk menegakkan keadilan. Menyelesaikan perselisihan dan menghilangkan perbedaan antar manusia yang sedang bertikai. Sebagai subjek terakhir dalam menyelesaikan segala persoalan. Bila pengadilan diidentikkan dengan pabrik yang memproduksi keadilan, maka Hakim merupakan tokohnya. Sehingga menjadi pilar penting di pengadilan. Hakim merupakan mesin pemikir sakaligus pelaku yang menghasilkan adonan kue, yang dibungkus dalam putusan. Adonannya tentu harus tepat, mengandung kepastian, keadilan dan kemanfaatan. Tiap sabdanya merupakan perintah. Tiap ketukan palu yang lahir dari jari jemarinya di atas meja dapat menciptakan badai keadilan. Dari keputusannya yang dituangkan dalam kata demi kata pada putusan dapat menentukan nasib anak manusia. Tidaklah salah dia sering disebut sebagai wakil tuhan di bumi.

Sebagai pejabat negara dan wakil tuhan di bumi, tentu tidak mudah bagi hakim. Apapun permasalahan yang disodorkan dihadapannya, harus diperiksa dan diputus. Dalam memutus perkara, tentu sangat berat bagi hakim. Dibutuhkan bekal yang tidak sedikit agar melahirkan putusan yang dapat diterima oleh para pihak. Mempunyai kedalaman ilmu. Memiliki pengetahuan yang luas. Memiliki keberanian berijtihad. Serta gagah berdiri tegak menjaga integritas. Menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh hakim sebagai pengadil. Diantara para penegak hukum, hakim menempati posisi yang sangat sentral. Dipundaknya ada tanggung jawab besar yang harus diemban.

Maka tidaklah salah, predikat “Ius Curia Novit/Curia Novit Jus” (hakim dianggap mengetahui semua hukum) disematkan kepada hakim. Pameo ini memberikan pengertian bahwa pengadilan tidak boleh menolak memeriksa dan mengadili perkara. Sebagai pengadil, hakim terikat secara langsung. Predikat tersebut jangan sampai hanya sebatas label dan isapan jempol semata. Jadikan predikat tersebut sebagai harapan sekaligus doa. Harapan tersebut harus dimaknai bahwa memberikan jalan lempang bagi hakim agar tidak berhenti pada titik tertentu. Hakim harus selalu berjalan di jalan penuh kesunyian. Memungut keadilan yang terserak untuk diberikan kepada yang berhak. Dia bukan sekedar corong undang-undang. Bukan pula peniup terompet kepentingan penguasa. Dia adalah penyambung pesan tuhan. Menebarkan benih-benih keadilan di muka bumi. Sebegitu penting keberadaan hakim di pengadilan, sepenting keberadaan jantung dalam tubuh manusia. Dari penjelesan di atas, para penulis merasa perlu mengulas tema tentang “Hakim Sebagai Jantung Di Pengadilan”.

 


[1] Para hakim Pengadilan Agama Bajawa/ Hakim angkatan VIII/PPC III.

[2] Menurut Montesquieu, ajaran Trias Politika (pemisahan kekuasaan negara menjadi tiga), 1. eksekutif (pelaksana undang-undang), 2. legislatif (pembuat undang-undang), dan 3. yudikatif atau kehakiman (pengawas pelaksanaan undang-undang).

[3] Montesquieu adalah pemikir politik Prancis yang hidup pada Era Pencerahan (bahasa Inggris: Enlightenment). Ia terkenal dengan teorinya mengenai pemisahan kekuasaan yang banyak disadur pada diskusi-diskusi mengenai pemerintahan dan diterapkan pada banyak konstitusi di seluruh dunia. Lihat di https://id.wikipedia.org/wiki/Montesquieu/.

SELENGKAPNYA KLIK DISINI

Hubungi Kami

 

Pengadilan Agama Bajawa

Jl. Patimura, Kelurahan Faobata,

Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada

Telp: 0384 21272
Fax: 0384 21272

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Email Panitera : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

fb b  081339203868

fb b  Pengadilan Agama Bajawa

ig   Pengadilan Agama Bajawa

map Lokasi Kantor

 

Pengadilan Agama Bajawa@2020